Kemenag KLU dan BMKG Mataram Laporkan Hilal di Wilayah Lombok Utara Belum Teramati Secara Visual
Lombok Utara (Getinsidetv.com) _ Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lombok Utara bersama Tim Hisab Rukyat Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kegiatan Rukyatul Hilal. Pengamatan bulan ini dipusatkan di Gedung Pusat Observasi Bulan (POB), Dusun Onggong, Desa Teniga, Kamis (19/03/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari prosedur resmi negara untuk menentukan awal Syawal 1447 H. Data dari titik Teniga akan menjadi bahan laporan krusial bagi Menteri Agama RI dalam Sidang Isbat penetapan Hari Raya Idul Fitri 2026 M secara nasional.
Sejak pukul 17.00 WITA, tim gabungan dari Kemenag NTB dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Mataram telah bersiaga di lokasi. Berbagai peralatan observasi canggih disiapkan untuk menangkap visualisasi bulan baru.
Tim teknis mengarahkan teleskop dan alat bantu pemantauan digital lainnya ke ufuk barat. Area tersebut merupakan titik paling krusial untuk mendeteksi kemunculan hilal sesaat setelah matahari terbenam.

Namun, proses pengamatan di lapangan tidak berjalan optimal akibat faktor alam. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang mengguyur wilayah Desa Teniga sejak sore hari, yang disertai dengan lapisan awan tebal di cakrawala.
Kondisi cuaca ini menjadi hambatan utama bagi tim rukyat. Visibilitas ke arah ufuk barat sangat terbatas, sehingga pengamatan visual secara langsung nyaris tidak mungkin dilakukan meskipun menggunakan alat bantu optik.
Pengamat geofisika dan meteorologi BMKG Mataram, Abelea Aminudin, menyatakan bahwa tim tetap berupaya maksimal melakukan pemantauan di sela-sela cuaca buruk. Menurutnya, hujan dan awan pekat menutupi titik koordinat hilal yang seharusnya teramati.
“Secara teknis peralatan kami sudah sangat siap, namun faktor cuaca di wilayah Teniga sore ini sangat menentukan. Awan tebal membuat pengamatan visual tidak bisa dilakukan secara optimal,” ungkap Abelea di lokasi pemantauan.
Selain faktor cuaca, data astronomis menunjukkan posisi hilal memang masih cukup rendah. Berdasarkan perhitungan sains, ketinggian hilal di wilayah Lombok Utara saat pemantauan berada di kisaran 1,5 derajat.
Data tersebut juga mencatat angka elongasi berada pada posisi sekitar 5,3 derajat. Secara teknis, angka-angka ini menjadi indikator penting dalam penentuan keterlihatan hilal (imkanur rukyat).
Angka tersebut diketahui masih berada di bawah kriteria terbaru yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria MABIMS mensyaratkan ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6 derajat.
Syarat tersebut merupakan standar agar hilal dapat dinyatakan secara sah terlihat dan memenuhi kriteria pergantian bulan. Dengan demikian, posisi hilal sore ini secara teoritis sangat sulit untuk teramati.
“Berdasarkan perhitungan matematis maupun kondisi nyata di lapangan, hilal di wilayah Lombok Utara pada hari ini belum memenuhi syarat untuk dapat diamati secara visual,” jelas tim teknis di lokasi.
Kondisi di POB Teniga ini menegaskan bahwa penentuan 1 Syawal tidak bisa hanya bersandar pada satu lokasi saja. Indonesia memiliki ratusan titik pantau yang tersebar dari wilayah timur hingga barat untuk memastikan data yang komprehensif.
Kementerian Agama RI akan mengumpulkan seluruh hasil pemantauan dari berbagai daerah untuk dibawa ke meja Sidang Isbat di Jakarta. Di sanalah keputusan resmi mengenai waktu perayaan Idul Fitri akan diambil secara kolektif.
Sidang Isbat akan mempertimbangkan hasil rukyatul hilal di lapangan serta data hisab (perhitungan) astronomis. Hal ini dilakukan untuk menjamin kepastian hukum bagi umat Islam dalam merayakan hari kemenangan.
Meskipun hasil pengamatan di Teniga tertutup mendung, prosedur tetap dijalankan sesuai standar operasional yang berlaku. Data negatif (hilal tidak terlihat) tetap menjadi laporan penting bagi validasi data nasional.
Masyarakat Kabupaten Lombok Utara diimbau untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum ada ketetapan resmi. Informasi yang beredar di media sosial diharapkan disaring melalui pengumuman pemerintah.
“Kami meminta masyarakat menunggu pengumuman resmi dari Menteri Agama setelah Sidang Isbat selesai dilaksanakan malam ini,” tambah perwakilan Kemenag di lokasi POB Teniga.
Prosesi rukyatul hilal di Desa Teniga pun berakhir dengan tertib seiring dengan masuknya waktu shalat Maghrib. Seluruh data teknis segera dikirimkan ke pusat sebagai kontribusi Lombok Utara dalam penanggalan Hijriah nasional.(r15)
Share this content:




Post Comment
Anda harus masuk untuk berkomentar.