Loading Now
×

Optimalkan Swasembada Pangan, Legislator KLU Minta Pemda Benahi Sumur Bor dan Irigasi Jelang April

Optimalkan Swasembada Pangan, Legislator KLU Minta Pemda Benahi Sumur Bor dan Irigasi Jelang April

Lombok Utara (Getinsidetv.com) Program percepatan tanam padi pada Musim Tanam Kedua (MT2) di Kabupaten Lombok Utara (KLU) mendapat sorotan tajam dari kalangan legislatif. Upaya pemerintah daerah dalam mendorong petani menanam padi periode April-Juli dinilai masih sebatas imbauan administratif tanpa sentuhan akar persoalan, Senin (30/03/2026).

Anggota DPRD KLU, Raden Nyakradi, menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan di daerah tidak bisa hanya mengandalkan sosialisasi. Menurutnya, petani membutuhkan intervensi nyata dan keberanian pemerintah untuk turun tangan langsung di lapangan.

“Imbauan itu penting, tapi tidak akan efektif kalau tidak dibarengi langkah konkret. Petani kita itu rasional, mereka butuh bukti nyata di lahan, bukan sekadar ajakan di atas kertas,” ujar Nyakradi dengan tegas.

Ia merinci bahwa bentuk intervensi yang mendesak adalah jaminan ketersediaan benih padi unggul dan distribusi pupuk yang lancar tepat waktu. Tanpa dua pilar ini, petani akan ragu untuk beralih dari komoditas lain ke padi pada MT2.

Persoalan klasik yang selalu menghantui petani setiap memasuki MT2 dan MT3 adalah ketidakpastian pasokan air. Nyakradi menilai jaringan irigasi masih menjadi titik lemah yang membuat petani enggan mengambil risiko gagal panen.

“Kalau debit air tidak dijamin masuk ke petak sawah, petani pasti ragu. Ini soal kepastian ekonomi keluarga mereka, jadi pemerintah harus hadir memberikan solusi teknis pengairan,” tambahnya.

Kondisi di wilayah Bayan menjadi contoh nyata tantangan program ini. Petani setempat selama ini lebih memilih menanam jagung pada MT2 karena dianggap jauh lebih menguntungkan secara nilai ekonomis dibandingkan padi.

Fenomena ini menjadi sinyal bagi Pemerintah Daerah bahwa pendekatan program harus lebih adaptif. Pemerintah diminta tidak memaksakan pola tanam jika tidak dibarengi dengan skema insentif atau bantuan yang sepadan bagi petani.

“Petani akan pilih jagung kalau memang itu yang menjanjikan. Jadi, kalau ingin mereka kembali menanam padi, pemerintah harus bisa membuktikan bahwa menanam padi di MT2 juga menguntungkan dan aman,” kata Nyakradi.

Sementara itu, untuk wilayah timur Lombok Utara yang didominasi lahan dengan sumber air terbatas, Nyakradi menekankan pentingnya optimalisasi sumur bor sebagai infrastruktur alternatif.

Ia mendesak Dinas terkait untuk segera melakukan peremajaan mesin sumur bor dan memperluas jaringan distribusi air ke lahan-lahan yang selama ini belum terjangkau secara maksimal.

“Sumur bor ini jantungnya lahan kering di wilayah timur. Kalau mesinnya rusak atau jaringannya mampet, jangan harap petani mau menanam padi di musim kedua ini,” ungkap legislator tersebut.

DPRD KLU berharap program MT2 tidak hanya menjadi target capaian dalam laporan administrasi Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3), melainkan benar-benar mendongkrak stok pangan daerah.

Sebelumnya, Kepala DKP3 KLU, Tresnahadi, memang telah mendorong para petani untuk memaksimalkan potensi lahan pada MT2 guna mendukung program swasembada pangan nasional.

Namun, Nyakradi mengingatkan bahwa semangat Dinas harus dibarengi dengan kesiapan anggaran dan personel penyuluh lapangan yang intensif melakukan pendampingan teknis.

Penyuluh pertanian diminta lebih aktif turun ke sawah untuk mengidentifikasi kendala petani sejak dini, mulai dari potensi serangan hama hingga masalah pembagian air antar-blok lahan.

Sinergi antara ketersediaan infrastruktur dan pendampingan SDM dinilai sebagai kunci utama jika KLU ingin lepas dari ketergantungan pasokan beras dari luar daerah pada musim-musim tertentu.

Nyakradi berkomitmen akan terus mengawasi jalannya distribusi bantuan sarana produksi pertanian (saprodi) agar tidak terjadi keterlambatan yang bisa mengganggu jadwal tanam April-Juli.

Ia juga meminta Pemda untuk lebih transparan dalam memetakan wilayah mana saja yang benar-benar siap secara teknis air untuk menanam padi, agar petani tidak menjadi korban kegagalan program.

Rapat-rapat koordinasi antara legislatif dan mitra kerja di sektor pertanian dipastikan akan semakin intensif menjelang dimulainya masa tanam MT2 di seluruh kecamatan di Lombok Utara.

Share this content:

You cannot copy content of this page