Tekan Angka Pernikahan Dini, Wabup Kusmalahadi Evaluasi Capaian Program GEMERCIK di KLU
Lombok Utara (Getinsidetv.com) Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, ST., MT., secara resmi membuka Lokakarya Pembelajaran Program GEMERCIK lintas sektor di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor Bupati pada Senin (9/3/2026).
Lokakarya ini menjadi ruang refleksi dan evaluasi terhadap proyek perlindungan anak yang telah diimplementasikan di KLU. Hadir dalam acara tersebut Direktur Program Plan International Indonesia Ida Ngurah, Manager Program GEMERCIK Sabaruddin, serta Kepala Dinas Sosial PP dan PA KLU, Fathurrahman, SP.
Direktur Program Plan Indonesia, Ida Ngurah, menyampaikan bahwa lokakarya ini bertujuan membedah kekurangan yang perlu diperbaiki serta mengapresiasi capaian yang telah diraih. Evaluasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan dampak positif program bagi anak-anak di Lombok Utara.
Sebanyak 120 peserta mengikuti lokakarya ini, mencakup Satgas PPA KLU, tokoh agama, tokoh adat, hingga perwakilan siswa SMP dan SMA. Pelibatan berbagai unsur ini menunjukkan bahwa isu perlindungan anak merupakan agenda kolektif yang menyentuh seluruh lapisan struktur sosial.
Wakil Bupati Kusmalahadi dalam sambutannya menekankan bahwa perkawinan anak masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Provinsi NTB. Data menunjukkan angka perkawinan anak di NTB mencapai 14,96 persen dari total data perkawinan pada tahun 2024.
“Kondisi ini tentu menjadi perhatian dan tanggung jawab kita bersama. Penanganan harus dilakukan secara lebih serius, terstruktur, dan berkelanjutan,” tegas Wabup Kusmalahadi di hadapan para peserta.
Menurut Wabup, perkawinan anak bukan sekadar masalah usia saat menikah. Isu ini berkaitan erat dengan aspek fundamental seperti akses pendidikan, kesehatan reproduksi, peluang ekonomi, hingga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan.
Ketika anak dipaksa atau memutuskan menikah terlalu dini, risiko putus sekolah meningkat tajam. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri dan memperbaiki taraf hidup keluarganya.
“Dampaknya tidak hanya dirugikan secara personal bagi anak tersebut, tetapi daerah juga rugi karena kehilangan potensi besar dari generasi mudanya,” tambah Wabup.
Guna memitigasi risiko tersebut, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara menjalin kerja sama erat dengan berbagai pihak melalui Program GEMERCIK. Program ini diposisikan sebagai gerakan bersama yang melibatkan sekolah hingga aparat penegak hukum.
Hasil positif mulai terlihat dari pelaksanaan program ini. Berdasarkan survei akhir yang melibatkan 213 responden di sekolah dan komunitas, terdapat peningkatan signifikan pada pengetahuan dan perubahan sikap masyarakat terhadap pencegahan perkawinan anak.
Peningkatan kesadaran ini menjadi modal berharga bagi KLU. Program GEMERCIK membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda sebagai agen perubahan dapat menciptakan pergeseran norma sosial yang lebih sehat.
Selain kesadaran individu, kapasitas kelompok perlindungan anak di tingkat desa juga dilaporkan meningkat. Hal ini diikuti dengan munculnya berbagai kebijakan di tingkat pemerintah desa yang lebih responsif terhadap perlindungan perempuan dan anak.
Meski menunjukkan kemajuan, Wabup Kusmalahadi secara jujur mengakui masih adanya tantangan besar yang harus diselesaikan. Salah satu kendala utama adalah data perkawinan anak yang belum terintegrasi sepenuhnya antar lembaga terkait.
Tantangan lainnya mencakup norma sosial di sebagian kecil masyarakat yang masih mentolerir praktik perkawinan anak. Selain itu, koordinasi lintas sektor dalam penanganan kasus di lapangan masih memerlukan penguatan lebih lanjut.
Wabup memberikan apresiasi tinggi kepada Plan International Indonesia, LPA Lombok Utara, dan Pengadilan Agama Giri Menang atas dedikasinya. Sinergi ini dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga marwah perlindungan anak di Bumi Tioq Tata Tunaq.
Apresiasi juga diberikan kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan tokoh masyarakat yang konsisten menyuarakan bahaya pernikahan dini. Partisipasi aktif generasi muda sebagai garda terdepan juga menjadi sorotan dalam sambutan tersebut.
Pencegahan perkawinan anak diposisikan sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan daerah. Dengan anak-anak yang tetap bersekolah, KLU akan memiliki kader-kader pemimpin masa depan yang lebih kompeten dan berkualitas.
Lokakarya ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang akan diintegrasikan ke dalam kebijakan daerah tahun mendatang. Fokus utama adalah sinkronisasi data dan penguatan edukasi di tingkat akar rumput.
Rangkaian acara ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal Program GEMERCIK. Sinergi yang telah terjalin diharapkan menjadi warisan tata kelola perlindungan anak yang tangguh bagi Kabupaten Lombok Utara.(r15)
Share this content:




Post Comment
Anda harus masuk untuk berkomentar.