

Wabup Lombok Utara Buka Gebyar Peresean Dalam Rangka Meriahkan HUT KLU
Lombok Utara (Getinsidetv.com) – Dentum gending pengiring bersatu padu dengan letupan riuh penonton di kaki Gunung Rinjani. Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Dikbudpora) resmi membuka “Gebyar Peresean” di Desa Wisata Senaru, Kecamatan Bayan, Minggu (12/7/2026). Gelaran laga seni bela diri tradisional khas suku Sasak yang berlangsung selama dua hari ini menjadi salah satu penanda utama dalam kalender Bulan Kebudayaan Daerah 2026 sekaligus perayaan HUT ke-18 KLU.
Atraksi petarung (pepadu) yang saling beradu ketangkasan menggunakan perisai kulit lembu (ende) dan penjalin rotan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Lombok Utara, Kusmalahadi Syamsuri, S.T., M.T. Turut hadir mendampingi Kepala Dinas Dikbudpora KLU H. M. Najib, M.Pd., jajaran Muspika Kecamatan Bayan, Kepala Desa Senaru Raden Akria Buana, serta para tokoh adat dan pemuda setempat.
Pembukaan Gebyar Peresean di Senaru mempertegas keberlanjutan strategi desentralisasi kebudayaan yang diusung Pemkab Lombok Utara sepanjang satu bulan penuh. Rangkaian perayaan hari jadi daerah ini bergulir secara inklusif di lima kecamatan—diawali Festival Sate Tanjung, Tournament Gasing di Gangga, Bayan Color Fun Run, hingga puncak eksistensi seni pertunjukan tradisional di kawasan lereng Rinjani.
Penunjukan Desa Wisata Senaru sebagai gelanggang peresean dirancang secara analitis sebagai instrumen diplomasi budaya (cultural diplomacy). Sebagai salah satu pintu masuk utama pendakian Rinjani dan destinasi wisata prioritas, Senaru menawarkan panggung ideal untuk memamerkan keautentikan tradisi Sasak Dayan Gunung langsung di hadapan ratusan wisatawan mancanegara dan domestik yang tengah berkunjung.
Melalui sinergi kolaboratif, Dikbudpora KLU menggandeng elemen lintas sektor, mulai dari Pemerintah Kecamatan Bayan, Pemdes Senaru, Karang Taruna, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), hingga pranata keamanan adat Lang-Lang Adat Bayan. Keterlibatan lembaga adat lokal ini memastikan bahwa setiap laga tarung tidak sekadar menjadi tontonan komersial, melainkan panggung ritual kebudayaan yang sarat marwah dan kehormatan.
Kabid Kebudayaan Dikbudpora KLU, Raden Sawinggih, menuturkan bahwa tingginya antusiasme masyarakat dan turis asing yang memadati arena pertunjukan membuktikan keampuhan seni tradisional sebagai magnet pariwisata. Konsistensi menjaga ritus peresean terbukti mampu menciptakan nilai tambah ekonomi (added value) bagi warga lokal, penginapan, hingga pedagang kuliner di sekitar kawasan Senaru.
Di tengah tensi pertarungan yang memicu adrenalin, Wakil Bupati Kusmalahadi Syamsuri menyampaikan pesan tegas kepada para pepadu yang berlaga di arena. Kusmalahadi mengingatkan bahwa inti sejati dari peresean bukanlah menyemai permusuhan atau dendam, melainkan manifestasi kesatria, kebersamaan, dan keteguhan jiwa warga Sasak yang diikat oleh nilai sportivitas tinggi.
Mengingat pasang mata masyarakat internasional turut menyaksikan pertunjukan ini, etika dan sportivitas pepadu di atas gelanggang menjadi cerminan peradaban daerah. Pesan persaudaraan yang ditunjukkan para petarung usai laga selesai—dengan saling berpelukan memaafkan—merupakan wajah kebudayaan ramah dan beradab yang ingin ditunjukkan Lombok Utara kepada dunia.
“Kita tidak ingin ada permusuhan, tidak ada dendam. Tunjukkan sportivitas karena kita ditonton dunia,” tegas Wakil Bupati Kusmalahadi di hadapan para pepadu dan ribuan penonton yang memadati arena Senaru.
Penyelenggaraan Gebyar Peresean dua hari di Senaru akhirnya membuktikan bahwa tradisi leluhur sanggup beradaptasi tanpa kehilangan roh aslinya. Dengan perlindungan adat yang kokoh, keterlibatan aktif generasi muda, dan integrasi bersama pariwisata berkelas dunia, Lombok Utara sukses menjadikan peninggalan budaya sebagai mesin penggerak ekonomi warga yang membanggakan dan berkelanjutan.(r15)
Share this content:














