Mengenal Kalender Sereat Adat Bayan: Rahasia di Balik “Mundurnya” Jadwal Ritual Adat dari Penanggalan Nasional
Lombok Utara (Getinsidetv.com) – Sering kali muncul pertanyaan di tengah masyarakat mengenai mengapa pelaksanaan acara adat maupun ritual keagamaan di wilayah Bayan, Lombok Utara, cenderung “mundur” dua hingga tiga hari dari kalender nasional. Hal ini kerap menimbulkan perdebatan bagi pihak yang belum memahami akar budayanya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dikbudpora KLU, Raden Sawinggih, memberikan penjelasan komprehensif untuk meluruskan persepsi tersebut. Menurutnya, masyarakat Bayan memiliki tata cara tersendiri dalam menentukan waktu yang disebut dengan Kalender Sereat Adat Bayan.
Sistem penanggalan ini merupakan warisan leluhur yang sangat berbeda dengan parameter Kalender Masehi maupun Kalender Hijriah yang digunakan secara luas saat ini. Perbedaan ini didasarkan pada metode pengamatan benda langit yang sangat spesifik.
Dalam menentukan jatuhnya tanggal satu, Kalender Sereat mengenal tiga fase pengamatan utama. Fase pertama disebut sebagai Sak Lingmaleng, di mana penentuan tanggal satu mengacu pada kondisi bulan yang belum terlihat sama sekali atau masih samar.
Fase kedua adalah Sak Lingpingit. Pada tahap ini, penentuan tanggal satu didasarkan pada penglihatan masyarakat, namun mayoritas penduduk sebenarnya belum melihat penampakan hilal atau bulan di langit secara jelas.
Sedangkan fase ketiga, yang menjadi standar utama Adat Bayan, adalah Sak Lingsereat. Pada fase ini, mayoritas masyarakat telah melihat penampakan bulan secara nyata dan luas di permukaan bumi.
“Karena menggunakan metode Sak Lingsereat inilah, sering kali jadwal kegiatan adat di Bayan terlihat mundur tiga hari dari kalender masehi atau nasional. Ini adalah keputusan kolektif berdasarkan apa yang benar-benar terlihat oleh mata masyarakat,” ujar Raden Sawinggih, Senin (13/04/2026).
Sistem perhitungan ini berakar pada kearifan Nusantara yang mengenal dua metode sinkronisasi waktu: Surya Sangkala dan Candra Sangkala. Surya Sangkala berpatokan pada perputaran matahari, sementara Candra Sangkala berpatokan pada peredaran bulan.
Khusus untuk penentuan waktu adat dan ritual, masyarakat Bayan dan Lombok Utara pada umumnya lebih condong menggunakan sistem Candra Sangkala. Hal ini merupakan khazanah keilmuan yang telah dijaga selama berabad-abad.
Raden Sawinggih menekankan bahwa perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan. Baginya, penanggalan adat adalah pedoman sakral yang menjamin keselarasan antara aktivitas manusia dengan siklus alam semesta.
Kearifan serupa ternyata juga ditemukan di wilayah lain di Lombok Utara, seperti di Sesait. Meskipun menggunakan istilah yang berbeda, yakni Kalender Jango Bangar, metodologi penghitungannya tetap serupa, yaitu mengacu pada perputaran bulan.
Konsistensi masyarakat dalam menjaga sistem penanggalan ini menunjukkan keteguhan identitas kultural Lombok Utara di tengah arus modernisasi. Kalender Sereat bukan sekadar angka, melainkan manifestasi cara pandang leluhur terhadap waktu.
Kabar baiknya, khazanah lisan ini kini telah didokumentasikan dengan lebih baik. Pemerintah daerah dan tokoh adat telah berhasil membukukan sistem Kalender Sereat Adat Bayan agar dapat dipelajari oleh generasi mendatang.
Dengan adanya pembukuan tersebut, jadwal pelaksanaan adat untuk 10 hingga 15 tahun ke depan kini sudah dapat dihitung dan diprediksi sejak sekarang. Hal ini mempermudah koordinasi pembangunan dan pariwisata di masa depan.
Upaya dokumentasi ini juga bertujuan untuk meminimalisir kesalahpahaman informasi di masa mendatang. Dengan adanya rujukan tertulis, masyarakat luas dapat memahami alasan logis di balik penetapan hari-hari besar di Bayan.
Raden Sawinggih berharap, pemahaman mengenai sistem Candra Sangkala ini dapat memperkaya literasi budaya masyarakat NTB. Pengetahuan ini membuktikan bahwa leluhur Lombok Utara memiliki kecerdasan astronomi yang sangat maju pada zamannya.
Pemerintah Kabupaten Lombok Utara pun terus mendorong pelestarian sistem ini sebagai bagian dari perlindungan warisan budaya tak benda. Keunikan waktu pelaksanaan ritual justru menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti dan wisatawan budaya.
Penerapan Kalender Sereat ini juga berkaitan erat dengan siklus pertanian dan sosial masyarakat adat. Penentuan waktu yang tepat dianggap mampu membawa keberkahan dan keselamatan bagi seluruh warga desa.
Melalui penjelasan ini, diharapkan sinergi antara kebijakan pemerintah dan pelaksanaan adat dapat berjalan beriringan tanpa harus saling berbenturan terkait perbedaan penanggalan.
“Ini adalah identitas kita. Menjaga Kalender Sereat berarti menjaga cara kita menghormati waktu dan alam yang telah diwariskan oleh para leluhur di Bumi Tioq Tata Tunaq,” pungkas Raden Sawinggih menutup penjelasannya.(r15)
Share this content:



