Loading Now
×

Event Kebudayaan di Lombok Utara

Event Kebudayaan di Lombok Utara

Lombok Utara (Getinsidetv.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Bidang Kebudayaan tengah merancang lompatan besar dalam strategi promosi daerah. Berdasarkan hasil Musrenbang Kebudayaan, muncul rekomendasi kuat untuk mengubah format Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) menjadi Bulan Kebudayaan Daerah.

Kepala Bidang Kebudayaan KLU, Raden Sawinggih, mengungkapkan bahwa transformasi ini bertujuan untuk memperpanjang durasi kemeriahan seni dan budaya di Lombok Utara. Langkah ini merupakan respons atas tingginya antusiasme masyarakat dalam berkesenian.

Rencana besar ini dijadwalkan akan bergulir pada Juli 2026 mendatang. Jika disetujui oleh Bupati Lombok Utara, program ini diharapkan dapat memastikan ketersediaan atraksi budaya bagi wisatawan di sepanjang tahun.

“Harapan kami, dengan adanya Bulan Kebudayaan Daerah, kunjungan wisatawan ke Lombok Utara akan terus meningkat karena setiap waktu selalu ada event yang bisa dinikmati,” ujar Raden Sawinggih, Senin (20/04/2026).

Konsep Bulan Kebudayaan ini didasarkan pada saran Wakil Bupati Lombok Utara guna mempermudah akses wisatawan terhadap hiburan berbasis tradisi sekaligus memperkuat identitas daerah.

Strategi pelaksanaan akan dilakukan secara merata di lima kecamatan dengan tema yang berbeda-beda. Di Kecamatan Bayan, rencananya akan digelar Festival Kesenian yang dipusatkan di Labuan Carik sebagai daya tarik pesisir utara.

Sementara itu, di Kecamatan Kayangan, geliat budaya sudah mulai terasa melalui inisiatif Panggung Lintas Pesisir. Program ini menjadi wadah bagi seniman lokal untuk mengekspresikan kreativitas di luar jadwal anggaran rutin.

Bergeser ke Kecamatan Gangga, pemerintah daerah akan memoles tradisi lokal menjadi daya tarik wisata melalui Lomba Gasing Datu. Permainan tradisional ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikemas secara profesional sebagai atraksi pariwisata.

Sektor kuliner juga menjadi perhatian utama dalam draf Bulan Kebudayaan tahun ini. Di Kecamatan Tanjung, panitia berencana menggelar Festival Sate Tanjung sebagai ikon kuliner daerah yang telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

Raden Sawinggih menekankan pentingnya menaikkan level Sate Tanjung dari sekadar makanan tradisional menjadi branding kuliner resmi Kabupaten Lombok Utara yang berkelas.

“Sate Tanjung adalah identitas kita. Melalui festival ini, kita ingin melakukan upgrade level sehingga setiap orang yang datang ke Lombok Utara merasa belum lengkap jika belum menikmati sate khas ini,” tambahnya.

Festival ini nantinya akan menampilkan berbagai varian kuliner tradisional, namun tetap menempatkan Sate Tanjung sebagai primadona utama guna memperkuat citra destinasi wisata kuliner.

Sementara itu, untuk Kecamatan Pemenang, fokus event akan diarahkan pada Lomba Karaoke Lagu Sasak Daerah. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan bahasa dan seni musik lokal di pintu masuk utama wisatawan ke wilayah Gili.

Penyebaran event di lima kecamatan ini dimaksudkan agar dampak ekonomi dari Bulan Kebudayaan tidak hanya berpusat di ibu kota, tetapi juga dirasakan oleh pelaku UMKM di desa-desa.

Namun, Raden Sawinggih mengingatkan bahwa konsep besar ini masih menunggu finalisasi rekomendasi Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) serta persetujuan dari Bupati Lombok Utara.

Selain rangkaian lomba dan festival, muncul inisiatif agar selama satu bulan penuh tersebut, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai OPD menggunakan pakaian adat sebagai simbol penghormatan terhadap budaya.

“Kami juga sedang berupaya menyusun Kalender Event yang terintegrasi. Selama ini kita masih terkendala pada ketiadaan kalender tetap yang bisa dijadikan acuan oleh agen travel dan wisatawan,” jelasnya.

Dengan adanya kalender event yang pasti, diharapkan para pelaku industri pariwisata dapat memasarkan paket kunjungan ke Lombok Utara jauh-jauh hari sebelum acara dimulai.

Dukungan dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sangat diharapkan untuk menyukseskan agenda ini, sehingga Bulan Kebudayaan menjadi milik seluruh masyarakat, bukan hanya Dinas Kebudayaan.

Momentum 20 April ini menjadi titik awal penguatan draf kebijakan kebudayaan agar pada bulan Juli mendatang, Lombok Utara benar-benar siap menjadi pusat perhatian budaya di Nusa Tenggara Barat.(r15)

Share this content:

You cannot copy content of this page